Jumat, 25 Maret 2011

Alice-Avril Lavigne



Alice
Avril Lavigne


Trippin out
Spinning around
I'm underground
I fell down
Yeah I fell down

I'm freaking out, where am I now?
Upside down and I can't stop it now
Can't stop me now, oh oh

I,I, I'll get by
I,I, I'll survive
When the world's crashing down
When I fall and hit the ground
I will turn myself around
Don't you try to stop me
I,I, I won't cry

I found myself in Wonderland
Got back on my feet, again
Is this real?
Is this pretend?
I'll take a stand until the end

I,I, I'll get by
I,I, I'll survive
When the world's crashing down
When I fall and hit the ground
I will turn myself around
Don't you try to stop me
I,I, I won't cry
I,I, I'll get by
I,I, I'll survive
When the world's crashing down
When I fall and hit the ground
I will turn myself around
Don't you try to stop me
I,I, and I won't cry

Selasa, 15 Maret 2011

                                  A H L A N    W A S A H L A N!!!

INFORMASI UNTUK STUDI DI JERMAN DARI KBRI JERMAN UNTUK CALON MAHASISWA BARU INDONESIA

Pada bagian ini anda akan menemukan gambaran singkat tentang persiapan-persiapan dan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk bisa melanjutkan studi di Jerman.
 
 Informasi Umum
 
Secara umum semua calon mahasiswa asing yang akan melanjutkan studi di Jerman diharuskan menyiapkan hal-hal penting sebagai berikut:
 
1. Persiapan Bahasa Jerman. Bahasa Jerman mutlak diperlukan karena komunikasi sehari-hari bisa dikatakan 100% menggunakan Bahasa Jerman. Bahasa Inggris memang bisa digunakan, tetapi bagaimanapun Bahasa Jerman tidak bisa ditinggalkan. Kalaupun seseorang akan mengambil program berbahasa Inggris, tetap saja kepadanya sangat dianjurkan untuk menguasai Bahasa Jerman, paling tidak untuk komunikasi sehari-hari. Tanpa penguasaan Bahasa Jerman yang memadai, kehidupan sehari-hari akan terasa sulit dan dikhawatirkan bisa mempengaruhi prestasi belajar nantinya.
   
2. Dokumen-dokumen Penting. Beberapa dokumen penting yang harus dipersiapkan diantaranya adalah Akte Kelahiran, Ijazah dari SD-SMP-SMA dan juga Ijazah Sarjana beserta fotocopy yang telah dilegalisir. Dokumen ini mohon disiapkan dalam jumlah yang cukup banyak, karena semua UNI dan FH mensyaratkan dokumen asli atau fotocopy yang telah dilegalisir.
   
3. Terjemahan Dokumen ke dalam Bahasa Jerman. Semua dokumen-dokumen sebagaimana dijelaskan dalam poin 2) harus diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman oleh penerjeman yang diakui oleh Kedutaan Jerman di Jakarta.
   
4. Paspor+Visa. Untuk bisa menempuh pendidikan di Jerman, seorang calon diwajibkan memiliki Student Visa yang dikeluarkan oleh Kedutaan Besar Jerman di Jakarta. Jangan sekali-kali datang dengan menggunakan Tourist Visa, karena dengan visa ini tidak akan bisa dikonversi menjadi visa ijin tinggal.
   
5. Uang Jaminan. Untuk bisa mendapatkan Visa di Keditaan Jerman di Jakarta, seorang calon mahasiswa diminta menyiapkan Uang Jaminan di Bank (di Indonesia) yang akan ditransfer setiap bulan ke Jerman untuk biaya hidup. Jumlah uang jaminan berbeda-beda tegantung tujuan studi masing-masing calon, tetapi jumlah minimal untuk hidup satu tahun sekitar 6000 Euro. (Confirm ke kedutaan Jerman di Jakarta!)
   
6. Biaya Lainnya. Selain Uang Jaminan, calon mahasiswa juga harus menyiapkan keperluan lainnya seperti biaya pembuatan visa, biaya ticket dll.
   
Selain poin 1) – 5) sebagaimana telah disebutkan diatas, setiap calon mahasiswa harus sadar betul bahwa sistem pendidikan dan kehidupan di Jerman sangat jauh berbeda dengan yang ada di Indonesia. Untuk itu, setiap calon harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadapi culture shock khususnya pada tahun-tahun pertama di Jerman. Tidak jarang dijumpai adanya calon mahasiswa yang hanya bertahan 2 – 3 bulan karena tidak sanggup menghadapi hal ini. Beberapa gambaran kecil bias digambarkan disini, diantaranya:
 
a) Pendidikan di Jerman dicirikan dengan kemandiriannya yang luar biasa. Guru dan dosen tidak akan memaksa siswa untuk melakukan ini-itu, tetapi siswa sendiri lah yang harus aktif memutuskan sendiri apa yang akan dilakukan.
   
b) Di Jerman setiap orang harus melakukan segala sesuatunya sendiri, dan tidak bisa menggantungkan ke orang lain. Mulai dari masak, cuci piring dan baju dll semua harus dilakukan sendiri.
   
c) Selama sekolah di Jerman, kita akan dipaksa banyak jalan kaki. Perjalanan dari rumah ke stasiun kereta atau bus, juga dari satu gedung ke gedung kampus lainnya. Bagi yang terbiasa naik mobil-motor atau yang terbiasa kemana-mana diantar sopir, kondisi ini bisa terasa cukup berat
   
 Informasi Khusus bagi lulusan SLTA
 
Bagi lulusan SLTA di Indonesia akan diwajibkan untuk mengikuti jenjang Studienkolleg terlebih dahulu (Lihat Studienkolleg). Untuk bisa mengikuti program Studienkolleg, seorang calon diwajibkan memiliki Student Visa yang dikeluarkan oleh Kedutaan Besar Jerman di Jakarta. Jangan sekali-kali datang dengan menggunakan Tourist Visa, karena dengan visa ini tidak akan bisa dikonversi menjadi visa ijin tinggal. Selain itu disyaratkan pula kemampuan berbahasa Jerman minimal pada level Mittelstufe 2. Persyaratan selengkapnya bisa dilihat di Persyaratan Studienkolleg.
Secara umum pendaftaran Studienkolleg ditutup tanggal 15 Juli untuk periode musim dingin (WS) atau tanggal 15 Januari untuk periode musim panas (SS). Akan tetapi ada beberapa Universitas yang memberlakukan jadwal khusus diantaranya:
 
FU Berlin 15 April dan 15 Oktober
Uni Aachen, Bochum, Köln, Bonn dan Münster 15 Mei dan 31 Oktober
Uni Hamburg 31 Maret dan 30 September
Uni Kaiserslautern, Mainz dan Saarbrücken 30 April dan 31 Oktober
 
Pemilan Studienkolleg sangat tergantung dari jurusan dan UNI atau FH yang akan dipilih nantinya. Bagi yang akan meneruskan ke Universitas, maka ia harus mengambil studienkolleg di UNI, sedangkan bagi yang akan meneruskan ke Fachhochschule, maka ia bisa mengambil Studienkolleg dimana saja. Informasi selengkapnya bisa dilihat di Studienkolleg.
 
 Memilih UNI atau FH serta Jurusan
 
Yang seringkali menjadi permasalahan adalah memilih antara UNI dan FH. Banyak calon mahasiswa yang masih bingung diantara keduanya, dan akhirnya memilih hanya mengikuti teman-temannya. Demikian juga dengan proses pemilihan jurusan. Hal ini seyogyanya dihindari karena sebenarnya setiap orang memiliki bakat dan kemampuan sendiri-sendiri. Kuliah di UNI akan banyak teori (60%) dan hanya sedikit praktek (40%). Sebaliknya kuliah di FH akan lebih banyak praktek (60%) dibandingkan teori (40%). Sering ada kasus seseorang memaksakan diri masuk ke UNI, padahal setelah beberapa waktu disadari bahwa ia tidak suka dengan teori-teori. Pada akhirnya ia minta pindah ke FH dan tentu saja ia kehilangan banyak waktu untuk itu.
Sebaliknya, banyak pula mahasiswa yang memilih jurusan karena ikut-ikutan atau karena jurusan tersebut punya nama yang mentereng. Hal demikian juga sangat berbahaya. Kuliah akan makan waktu bertahun-tahun, sehingga kalau seseorang tidak menikmati, maka hasilnya tidak akan maksimal atau bahkan terpaksa gagal di tengah jalan.
Oleh karena itu setiap calon mahasiswa harus memperhatikan benar-benar kemana minat, bakat dan kemampuannya, sehingga tidak timbul penyesalan di belakang hari.
 
 Informasi Khusus bagi Lulusan S1
 
Bagi lulusan Sarjana dari Indonesia, beberapa informasi berikut sangat penting untuk diperhatikan, siantaranya:
 
1. Persyaratan Bahasa. Bahasa Jerman mutlak diperlukan karena komunikasi sehari-hari bisa dikatakan 100% menggunakan Bahasa Jerman. Bahasa Inggris memang bisa digunakan, tetapi bagaimanapun Bahasa Jerman tidak bisa ditinggalkan. Kalaupun seseorang akan mengambil program berbahasa Inggris, tetap saja kepadanya sangat dianjurkan untuk menguasai Bahasa Jerman, paling tidak untuk komunikasi sehari-hari. Tanpa penguasaan Bahasa Jerman yang memadai, kehidupan sehari-hari akan terasa sulit dan dikhawatirkan bisa mempengaruhi prestasi belajar nantinya.
   
2. Proses Annerkennung. Annerkennung adalah proses persamaan Ijazah Indonesia dengan Jerman. Tidak ada patokan pasti untuk itu, karena setiap universitas memiliki otonomi dan kewenangan sendiri-sendiri. Hasilnya akan sangat tergantung dari universitas asal tempat ia memperoleh gelar kesarjanaan dan universitas mana yang akan ia tuju untuk melanjutkan belajar. Akan tetapi biasanya sarjana S1 Indonesia akan disetarakan dengan Vordiplom Jerman, dan kepadanya langsung bisa mengikuti pendidikan Diplom mulai semester 5 atau 6. Beberapa universitas Jerman bahkan memberikan kesempatan kepada sang calon untuk mengikuti 2-3 mata ujian dan kalau lulus langsung disetarakan dengan Diplom Jerman.
   
3. Memilih Diplom atau Master. Bagi calon mahasiswa yang telah memiliki gelar S1 dari Indonesia, maka kepadanya ada pilihan untuk memilih Diplom (Program Klasik) atau Master (Program Baru). Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Program Diplom sampai saat ini diyakini lebih baik oleh mayoritas orang Jerman, karena sejarahnya yang telah lama dan teruji. Oleh karenanya bagi mereka yang nantinya ingin bekerja di Jerman, maka pilihan Diplom barangkali lebih cocok. Akan tetapi bagi yang ingin kembali ke tanah air program Diplom barangkali tidak terlalu cocok. Oleh Pemerintah Indonesia (DIKTI) gelar Diplom tidak disetarakan dengan Master, tetapi lebih rendah dari itu. Diplom UNI disetarakan dengan S1+ sedangkan Diplom FH disetarakan dengan DIV. Hal ini tentu tidak terlalu nyaman, karena setelah menempun pendidikan lanjutan selama 3 tahunan, gelar Diplom yang diperoleh masih saja setara dengan sarjana Indonesia. Selain itu program Diplom 100% masih menggunakan Bahasa Jerman sehingga tingkat kesulitan bahasa bisa dikatakan sangat tingi.
Sebaliknya Program Master adalah program baru yang akan diterapkan penuh mulai tahun 2010 (lihat Jenjang Pendidikan Bachelor-Master!). Oleh karenanya, ke depan nanti program inilah yang akan lebih diperhatikan. Selain itu masih ada pula kelebihan lain dari Program Master (dibanding Diplom), diantaranya:
   
  1. Sarjana S1 Indonesia disetarakan dengan Bachelor dari Negara lainnya, sehingga bias langsung masuk ke jenjang Master. Oleh karenanya, dalam 2 tahun gelar Master sudah bias diperoleh.
     
  2. Gelar Master Jerman bisa langsung disetarakan dengan Magister (S2) Indonesia.
     
  3. Banyak program Master di Jerman yang diberikan dalam Bahasa Inggris, atau minimal kombinasi antara Bahasa Inggris dan Jerman, sehingga kesulitan bahasa bisa dikatakan lebih kecil.
     
  4. Lulusan Master (khususnya dari UNI) juga bisa langsung melanjutkan ke jenjang doktor di Jerman sebagaimana lulusan Diplom. Selain itu, lulusan Master juga bisa melanjutkan ke program doktor di Indonesia maupun Negara-negara lainnya di seluruh dunia.
     
Oleh karena itu bagi mereka-mereka yang ingin pulang ke tanah air setelah lulus atau ingin terus melanjutkan studi ke jenjang doktor, barangkali program Master ini lebih disarankan.
 
 Informasi bagi Lulusan S2 yang akan melanjutkan ke Program Doktor
 
Bagi lulusan Magister (S2) Indonesia yang akan melanjutkan program Doktor, informasi-informasi penting berikut barangkali bisa sangat membantu:
 
1. Persyaratan Bahasa. Bahasa Jerman mutlak diperlukan karena komunikasi sehari-hari bisa dikatakan 100% menggunakan Bahasa Jerman. Bahasa Inggris memang bisa digunakan, tetapi bagaimanapun Bahasa Jerman tidak bisa ditinggalkan. Disertasi doktor di banyak universitas bisa ditulis dalam Bahasa Inggris, tetapi ada beberapa yang masih mensyaratkan dalam Bahasa Jerman. Selain itu, banyak pula professor yang lebih senang kalau doktorandnya menulis disertasi dalam Bahasa Jerman, karena proses pembimbingan dan koreksi disertasi bisa berjalan lebih baik. Selain itu, di semua institut dilaksanakan seminar secara reguler dan sebagian besar presentasi disajikan dalam Bahasa Jerman. Oleh karena itu, kemampuan Bahasa Jerman mutlak diperlukan untuk bisa mengikuti jalannya seminar.
   
2. Proses Annerkennung. Annerkennung adalah proses persamaan Ijazah Indonesia dengan Jerman. Tidak ada patokan pasti untuk itu, karena setiap universitas memiliki otonomi dan kewenangan sendiri-sendiri. Hasilnya akan sangat tergantung dari universitas asal tempat ia memperoleh gelar kesarjanaan dan universitas mana yang akan ia tuju untuk melanjutkan belajar. Dalam banyak kasus sarjana S2 Indonesia telah disetarakan dengan Diplom Jerman sehingga bisa langsung lanjut ke program doktor. Akan tetapi banyak pula universitas yang mensyaratkan pemegang gelar S2 dari Indonesia untuk mengikuti proses Annerkennung dengan mengikuti 2-3 mata ujian dan kalau lulus langsung baru bisa melanjutkan ke program Doktor. Bagi mereka-mereka yang gelar S1 dan S2-nya diperoleh dari jurusan yang berbeda, maka proses Annerkennung akan menjadi jauh lebih rumit dan makan waktu. Beberapa calon mahasiswa akhirnya tidak sabar dan memilih mengundurkan diri dan melanjutkan program doktor di negara lain.Dalam kaitan dengan penyetaraan Ijazah S2 ini, telah ada penjanjian informal antara pemerintah Jerman dan Indonesia pada tahun 1992. Akan tetapi penjanjian ini memang tidak mengatur secara tegas akan hal ini, dan keputusan akhirnya diserahkan ke universitas masing-masing.
   
3. Program Doktor Jerman dan Indonesia. Ada perbedaan mendasar antara pendidikan doktor di Jerman dan di Indonesia. Di Indonesia pendidikan doktor pada umumnya dimulai dengan proses perkuliahan selama 3-4 semester dan setelah itu mahasiswa diwajibkan menempuh ujian prelim. Setelah lulus prelim barulah mahasiswa ulai melakukan penelitian untuk disertasinya. Sebaliknya, pendidikan doktor di Jerman tidak mewajibkan mahasiswanya untuk mengikuti perkuliahan secara regular tetapi langsung melakukan penelitian. Penelitian telah bisa dilakukan sejak dia terdaftar sebagai mahasiswa program doktor. Mahasiswa pun dipersilahkan untuk mengikuti perkuliahan apa saja dan dimana saja sesuai dengan kebutuhannya. Bisa saja seorang mahasiswa mengambil perkuliahan di universitas lain atau bahkan di Negara lain.
   
4. Tips Memilih Universitas. Di Mata orang-orang Indonesia, nama RWTH Aachen sangat terkenal dan dianggap paling baik. Akan tetapi hal ini tidak sepenuhnya benar dan lebih dikarenakan oleh figure Prof. B.J. Habibie yang memang lulusan dari Aachen. Perlu diketahui bahwa hampir semua universitas di Jerman adalah Universitas Negeri yang dijamin oleh pemerintah, sehingga kualitas antar perguruan tinggi bisa dikatakan sangat merata. Keunggulan suatu institusi tidak tergantung oleh universitasnya, tetapi lebih ditentukan oleh Jurusan (Lehrstuhl) beserta professor dan para stafnya. Kualitas tiap-tiap jurusan bisa dilihat dari publikasi masing-masing. Semakin banyak publikasi, maka kualitasnya akan semakin bagus. Selain itu, majalah Stern bekerjasama dengan Centrum für Hochschulentwicklung (CHE) juga menyelenggarakan survei untuk menentukan peringkat Universitas setiap tahun dan hasilnya bisa dilihat di www.che.de.
Selain itu ada kepercayaan yang diyakini oleh sebagian orang bahwa universitas di wilayah selatan lebih hebat dan karenanya lebih sulit untuk masuk kesana. Hal ini juga sama sekali tidak benar. Fakta menunjukkan bahwa baik di wilayah selatan maupun utara banyak universitas yang masuk peringkat utama. Banyak pula doktorand asal Indonesia yang lebih mudah masuk ke dan lulus dari universitas bagian selatan dibandingkan dengan universitas bagian utara.
   
5. Mencari kontak Professor. Untuk memilih institusi dan professor calon pembimbing, sangat disarankan setiap calon mahasiswa untuk memanfaatkan fasilitas internet. Semua informasi terkini dari tiap-tiap institusi selalu diperbaharui dari waktu ke waktu. Selain itu, sangat disarankan untuk memilih pembimbing yang pernah membimbing orang Indonesia (atau mnimal orang asing) karena biasanya mereka lebih bisa mengerti kesulitan-kesulitan mahasiswa asing. Karena itu, menjalin kontak dengan doktorand Indonesian yang ada di Jerman atau dengan alumni-alumni Jerman juga sangat dianjurkan.
   
6. Apa dan bagaimana menulis disertasi. Menulis disertasi bukanlah pekerjaan yang mudah, karena disertasi haruslah memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Ada dua aliran yang utama yang menjelaskan apa sebenarnya disertasi. Pertama, penelitian disertasi adalah merupakan penelitian yang “big bang” dan seyogyanya menghasilkan sesuatu yang fenomental. Akan tetapi pada kenyataannya hanya sedikit sekali disertasi yang menghasilkan sesuatu yang sangat fenomental. Kedua, yang banyak dijumpai pada sebagian disertasi yang ada, penelitian disertasi adalah kumpulan dari tiga sampai empat penelitian dalam satu kesatuan, yang masing-masing bisa menghasilkan artkel setara satu paper pada journal ilmiah. Oleh karenanya, satu disertasi kira-kira setara dengan 3 – 4 paper journal yang kemudian digabungkan satu sama lain menjadi satu kesatuan (Cek ke buku "How to get a PhD").
Perkembangan dari waktu ke waktu menunjukkan bahwa aliran kedua lah yang lebih berkembang di masyarakat ilmuah. Karenanya, pendidikan doktor adalah jenjang pendidikan untuk melatih seseorang sehingga ia siap masuk ke dunia riset.
Untuk bisa menulis disertasi, tahap pertama seseorang harus memutuskan dulu pada thema mana ia akan bekerja. Tahapan ini adalah tahapan yang sangat crusial, karena disini seseorang harus bisa merumuskan permasalahan yang akan dipecahkan, serta menemukan metodologi terbaik yang cocok digunakan. Keberhasilan pada tahap ini akan sangat penting bagi tahapan-tahapan selanjutnya, karena apabila semua ini telah bisa diformulasikan, maka pada hakekatnya 40% penelitian disertasi telah bisa diselesaikan.
   
7. Publikasi. Selama menempuh program doktor, semua mahasiswa diwajibkan untuk mempublikasikan hasil-hasil penelitiannya melalui berbagai media. Publikasi yang rutin dilakukan adalah seminar di lingkungan sendiri dengan melakukan presentasi rutin tiap semester. Dalam kesempatan ini, mahasiswa akan mendapatkan masukan-masukan dari professor-professor, asisten professor serta doktorand lain dalam satu institute. Selain itu sangat disarankan pula kepada setiap doktorand untuk mempublikasikannya dalam konferensi-konferensi nasional dan internasional maupun mempublikasikannya di journal-journal ilmiah. Publikasi pada konferensi serta journal internasional memang tidak diharuskan, tetapi hal ini akan sangat membantu dalam proses kelulusan nantinya. Jika seseorang telah banyak menyajikan makalahnya dalam konferensi internasional atau mempublikasikan papernya di journal ilmiah, maka ia akan memperoleh nilai lebih sehingga proses kelulusan akan jauh lebih mudah.
   
 Mitos-mitos tentang Studi di Jerman
 
Berkaitan dengan studi di Jerman, banyak orang meyakini mitos-mitos tertentu yang cenderung menyesatkan. Beberapa diantara mitos-mitos tersebut diantaranya:
 
1. Hidup di Jerman serba enak dan mudah. Hal ini tidak selamanya benar. Memang benar bahwa Jerman adalah negara maju yang hidupnya serba makmur dan teratur. Akan tetapi tidak berarti bahwa mahasiswa hidup enak-enak. Disini mahasiswa justru dituntut untuk bekerja keras dan mandiri. Hal ini bisa sangat berat, khususnya bagi calon mahasiswa yang terbiasa hidup serba enak di Indonesia. Tidak ada lagi supir dan pembantu yang siap mengerjakan apa yang kita minta. Tidak ada lagi mobil serta fasilitas lainnya yang selama di Indonesia barangkali dengan mudah bisa didapatkan. Benar bahwa kuliah di Jerman serba bebas, akan tetapi kebebasan ini juga bisa berakibat fatal bila mahasiswa tidak bisa mendisiplinkan diri sendiri.
   
2. Kuliah di Jerman Gratis. Ini juga tidak selamanya benar. Benar bahwa kuliah di Jerman sangat murah. Di Berlin-Brandenburg misalnya, mahasiswa hanya membayar sekitar 150 – 200 Euro (sekitar Rp 1,5 sampai Rp 2 juta) per semester. Ini pun sudah termasuk biaya transportasi (semester ticket) yang bisa dpakai untuk naik bis, kereta, U-Bahn, S-Bahn serta Tram selama satu semester penuh. Kuliah di PTN di Indonesia bisa jadi biayanya jauh lebih mahal. Akan tetapi bagi mereka yang melewati batas waktu yang ditetapkan, maka mahasiswa akan diminta membayar biaya kuliah antara 500 – 1000 Euro. Selain itu saat ini sedang ada diskusi publik tentang perlu tidaknya menarik uang kuliah dari mahasiswa. Sampai saat ini keputusan belum ada, tetapi nampaknya kecenderungan mahasiswa akan diminta membayar biaya kuliah meskipun tidak terlalu besar.
   
3. Kuliah bisa sambil Kerja. Benar semua mahasiswa di Jerman (termasuk mahasiswa asing) diijinkan untuk bekerja selama 3 bulan dalam setahun. Dengan bekerja 3 bulan dalam setahun, pengalaman menunjukkan bahwa hasilnya sudah bisa dipakai untuk mencukupi biaya hidup minimal selama setahun. Akan tetapi bekerja sambil kuliah menyimpan persoalan yang sangat besar. Seringkali mahasiswa terlena karena mendapatkan uang yang cukup besar (apalagi kalau dinilai dalam rupiah!) dan cenderung menomerduakan kuliah. Akibatnya kuliah tertunda-tunda dan tanpa terasa waktu kuliah telah habis. Kalau ini terjadi, maka ancamannya adalah terpaksa pulang tanpa gelar karena ijin tinggal sudah habis dan tidak bisa diperpanjang lagi. Kalau belajar dinomerduakan, bisa jadi mahasiswa gagal ujian 3 kali pada mata kuliah yang sama. Kalau ini terjadi, secara otomatis ia akan dikeluarkan (DO) tanpa bisa pindah kemanapun di seluruh Jerman.
   
4. Kuliah di Jerman sulit dan makan waktu lama. Pandangan ini juga tidak benar dan cenderung menyesatkan. Pada kenyataannya banyak mahasiswa Indonesia yang berprestasi sangat bagus dan mampu menyelesaikan studinya dalam waktu singkat. Bahkan banyak diantaranya yang langsung mendapatkan kesempatan untuk mengambil program doktor atau langsung bekerja di Jerman. Sebaliknya, banyak pula yang terkatung-katung dan bahkan gagal di dalam studinya. Beberapa alasan utama kegagalan tersebut diantaranya:
   
 

Ketidakcocokan tempat studi. Bisa jadi sang mahasiswa salah dalam memilih UNI atau FH, atau salah memilih jurusan. Ini banyak dialami oleh mereka-mereka yang memilih hanya sekedar ikut-ikutan. Untuk itu, setiap mahasiswa hendaknya memilih jurusan sesuai dengan bakat dan kemampuan yang dimilikinya.
     
 

Terlena karena sibuk bekerja. Banyak mahasiswa yang terlalu banyak bekerja karena berbagai alasan, sehingga kuliahnya terbengkalai. Bekerja tentu saja boleh untuk meringankan beban keluarga di Indonesia. Akan tetapi menomorduakan kuliah tentu tidak boleh terjadi. Bagaimanapun sejak awal mahasiswa berkeinginan untuk sekolah, sehingga kuliah tetaplah harus menjadi tujuan utama.
     
 

Kesulitan Bahasa. Penguasaan Bahasa Jerman sangat mempengaruhi keberhasilan seorang mahasiswa, khususnya untuk jenjang Diplom. Tanpa menguasai bahasa dengan baik, akan sangat sulit bagi mahasiswa untuk bisa berprestasi maksimal. Ia akan kesulitan mengungkapkan apa yang ada di pikirannya walaupun ia sebenarnya tahu tentang itu. Ia juga akan sulit mengerjakan tugas-tugas hariannya. Karenanya, penguasaan bahasa harus benar-benar diusahakan.
     
 

Persoalan Pribadi. Persoalan pribadi juga memegang peran sangat penting. Banyak sekali yang terkait dengan hal ini, diantaranya masalah keuangan, masalah keluarga dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Untuk mengatasi masalah pribadi, seyogyanya setiap mahasiswa Indonesia tetap menjalin kontak yang baik dengan mahasiswa Indonesia lainnya. Dalam banyak kasus, keberadaan teman untuk bertukar pikiran akan sangat meringankan beban yang dihadapi. Akan tetapi tidak bijaksana pula kalau seseorang hanya bergaul dengan orang Indonesia saja, karena dengan demikian kemampuan bahasanya tidak akan pernah berkembang.
     
5. UNI dan FH, mana yang lebih baik? Sebagian orang menganggap UNI lebih baik dan sebagian lainnya menganggap FH lebih baik. Alumni UNI akan cenderung mengatakan bahwa UNI lebih baik, sedangkan alumni FH akan cenderung mengatakan bahwa FH lebih baik. Hal ini sepenuhnya bisa dimengerti karena mereka dididik disana dan mengetahui lebih banyak tentang institusinya. Akan tetapi pilihan terbaik antara UNI dan FH akan sangat tergantung pada bakat, minat dan kemampuan serta jenis pekerjaan yang diminati oleh individu masing-masing.
   

Jumat, 18 Februari 2011

Subhanallah...Indahnya menjadi seorang ibu

Hari ini adalah minggu ketiga dimana aku mencoba mentransfer sedikit ilmu yang aku meliki untuk para mujahidah kecilku yang senantiasa semangat dengan hari-harinya. Melihat wajah lugu mereka seakan membuatku seketika meninggalkan kesendirianku di dunia ini.
"Ibu!!"
Subhanalla aku benar-benar terhenyak ketika panggilan itu mereka tujukan kepadaku dengan semangat
 menggebu. Seketika perasaan bahwa aku adalah seorang mahasiswi berumur 19 tahun lenyap sudah seiring panggilan baru yang tertuju kepadaku itu.
Ada perasaan bergetar yang begitu dasyat ketika mereka memanggilku seperti itu,,,
"Ya Allah, orang sekaku diriku yang jauh dari sifat keibuan dipanggil dengan sedemikian sumeringahnya seperti itu!!, pantaskah?"

Sekarang aku baru menyadari bagaimana indahnya dan senangnya menjadi seorang ibu. Mereka memang tidak terlahir dari perutku, tapi setidaknya aku dapat merasakan bagaimana bahagianya jika anak yang kita didik mengalami kemajuan setiap waktunya. Subhanallah, indahnya menjadi seorang ibu yang senantiasa membuat anaknya aman, nyaman dan berpengetahuan luas...

Untuk Ibuku tercinta, LOVE YOU MOM!!!!

Jumat, 28 Januari 2011

28 Januari 2011

Seperti ada pecahan kaca yang menyayat setiap urat nadi dan persendian tubuh ini....
Menekan kuat dada ini hingga aku sulit untuk bernafas...
Membebani pundak dan kepala ini dengan besi berpuluh-puluh ton...bahkan berjuta-juta ton...
Aku...
Bukan air...yang selalu bisa menyejukan orang yang kering dahaganya....
Aku...
Bukan sutra...yang senantiasa lembut dalam setiap hentakannya...
Aku...
Bukan batu karang di laut...yang selalu kuat walaupun tsunami menerjang...
Aku juga manusia biasa....
Aku juga wanita biasa...
Aku juga akhwat biasa...
Aku juga ingin menangis tersedu-sedu dihadapan orang yang bisa menguatkanku...
Aku juga ingin membagi beban ini kepada siapa saja yang tulus menanggungnya bersama...
Tapi...
Aku tidak bisa...
"Beban Budi" jauh lebih berat dari apapun bagiku...
Aku tidak terbiasa dan aku tidak mau menerima "Beban Budi"...
Saat ini...
Ijinkan aku sendiri...
Aku mau mencari nafasku yang hilang...
Sudah cukup aku tersengal-sengal kehilangan nafasku hingga tubuh ini serasa sakit seperti diikat tambang dengan begitu kuat...
Aku memang bukan siapa-siapa dan apa-apa...
Tapi aku masih bisa tersenyum dengan prinsip dan harga diriku setidaknya...
Sekalipun aku sudah kehilngan rasaku...
Sekalipun aku telah kehilngan kelembutanku..
Sekalipun aku sudah kehilangan semangatku...
Sekalipun aku harus hidup dengan tatapan kosong dalam setiap langkahku...
Hingga saatnya aku terpejam dalam kelembutan-Nya....

SUNGGUH AKU TIDAK BERARTI BAGIKU DAN BAGI SIAPAPUN

Minggu, 16 Januari 2011

Mengenal Serangan Man-in-The-Middle (MITM)


by Rizki Wicaksono 

Sudah banyak artikel di ilmuhacking yang membahas teknik serangan man in the middle (mitm), namun belum pernah saya menjelaskan secara detil tentang apa itu mitm attack. Mitm attack merupakan jenis serangan yang sangat berbahaya dan bisa terjadi di mana saja, baik di website, telepon seluler, maupun di peralatan komunikasi tradisional seperti surat menyurat. Oleh karena itu saya pikir perlu ada satu artikel khusus yang membahas tentang mitm attack terlepas dari apapun dan dimanapun implementasi teknisnya.
Bukan Sekedar Sniffing
Mungkin banyak yang mengira tujuan dari serangan mitm adalah untuk menyadap komunikasi data rahasia, seperti yang sniffing. Sniffing bisa disebut sebagai passive attack karena pada sniffing attacker tidak melakukan tindakan  apa-apa selain memantau data yang lewat.  Memang benar dengan serangan mitm, seorang attacker bisa mengetahui apa yang dibicarakan oleh dua pihak yang berkomunikasi. Namun sebenarnya kekuatan terbesar dari mitm bukan pada kemampuan sniffingnya, namun pada kemampuan mencegat dan mengubah komunikasi sehingga mitm attack bisa disebut sebagai jenis serangan aktif.
Gambar di bawah ini adalah skenario yang bisa dilakukan attacker dengan serangan mitm.
sniffing,intercepting,tampering,fabricating
Pada gambar tersebut terlihat ada 4 macam serangan yang bisa dilakukan dengan MITM. Berikut adalah penjelasan dari jenis serangan tersebut dalam skenario seperti gambar di atas.
  • Sniffing: Charlie mengetahui semua pembicaraan antara Alice dan Bob.
  • Intercepting: Charlie mencegat pesan dari Alice ketika Alice ingin menutup percakapan dengan “Bob I’m going to sleep, Bye!”. Dengan begini Bob mengira Alice masih berkomunikasi dengannya.
  • Tampering: Charlie mengubah jawaban Bob kepada Alice dari account Paypal bob menjadi charlie.
  • Fabricating: Charlie menanyakan nomor social security number kepada Bob, padahal pertanyaan ini tidak pernah diajukan oleh Alice.
Dengan cara mitm ini bisa dibayangkan betapa besar potensi kerusakan yang bisa dilakukan Charlie kepada Alice dan Bob.
Proses Terjadinya Serangan Man-in-The-Middle
Dalam serangan mitm, seorang attacker akan berada di tengah-tengah komunikasi antara dua pihak. Seluruh pembicaraan yang terjadi di antara mereka harus melalui attacker dulu di tengah. Attacker dengan leluasa melakukan penyadapan, pencegatan, pengubahan bahkan memalsukan komunikasi seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya.
Sekarang mari kita lihat proses terjadinya MITM dalam contoh kasus Alice berkomunikasi dengan Bob. Charlie sebagai attacker akan berusaha berada di tengah antara Alice dan Bob. Agar Charlie berhasil menjadi orang ditengah, maka Charlie harus:
  • menyamar sebagai Bob dihadapan Alice
  • menyamar sebagai Alice dihadapan Bob
Charlie acts as fake Bob and fake Alice
Dalam mitm, Alice mengira sedang berbicara dengan Bob, padahal dia sedang berbicara dengan Charlie. Begitu juga Bob, dia mengira sedang berbicara dengan Alice, padahal sebenarnya dia sedang berbicara dengan Alice. Jadi agar bisa menjadi orang di tengah Charlie harus bisa menyamar di dua sisi, tidak bisa hanya di satu sisi saja.
Kenapa Alice dan Bob bisa terjebak dan tertipu oleh Charlie? Itu karena Alice dan Bob tidak melakukan otentikasi dulu sebelum berkomunikasi. Otentikasi akan menjamin Alice berbicara dengan Bob yang asli, bukan Bob palsu yang diperankan oleh Charlie. Begitu juga dengan otentikasi, Bob akan berbicara dengan Alice yang asli, bukan Alice palsu yang diperankan oleh Charlie.
Pentingnya Otentikasi: Who Are You Speaking With?
Otentikasi adalah proses untuk membuktikan identitas suatu subjek, bisa orang atau mesin. Proses membuktikan identitas seeorang ada banyak cara, namun semuanya bisa dikelompokkan dalam 3 kategori:
  • What you know: PIN, password, pasangan kunci publik-privat
  • What you have: smart card, kunci, USB dongle
  • What you are: fingerprint, retina
Secara singkat otentikasi menjawab pertanyaan “Who are you speaking with?”. Pertanyaan itu sangat penting diketahui sebelum dua pihak berkomunikasi. Bila dua pihak berkomunikasi tanpa sebelumnya melakukan otentikasi, maka keduanya bisa terjebak berbicara dengan orang yang salah, yaitu orang yang menyamar menjadi lawan bicaranya. Bila sampai ini terjadi maka akibatnya bisa sangat fatal, salah satunya adalah terjadinya mitm attack.
Bila dua orang yang sudah saling mengenal berbicara dengan tatap muka langsung, maka tidak mungkin keduanya terjebak dan tertipu berbicara dengan orang yang salah. Otentikasi menjadi sangat penting bila kedua pihak berbicara melalui media komunikasi jarak jauh seperti telpon atau internet. Dalam komunikasi jarak jauh, kita hanya bisa mendengar suara lawan bicara kita, jadi sangat besar kemungkinan kita berbicara dengan orang yang salah.
Jadi cara untuk mencegah serangan MITM adalah dengan melakukan otentikasi sebelum berkomunikasi. Bahkan walaupun otentikasi dilakukan oleh salah satu pihak saja, itu sudah cukup untuk mencegah mitm. Mari kita lihat kembali contoh Alice,  Bob dan Charlie, bila otentikasi hanya dilakukan oleh Bob, sedangkan Alice tidak. Karena tidak adanya otentikasi Alice, maka Charlie bisa menyamar sebagai Alice di hadapan Bob, namun Charlie tidak bisa menyamar sebagai Bob di hadapan Alice. Kenapa Charlie tidak bisa menyamar menjadi Bob? Sebab Alice akan menguji keaslian